Nurudin Haka (Ketua PCM BSD/Serpong Utara)

NGETHEK ini bahasa khas orang jawa timur. Artinya kurang lebih mau banget. Karena mau banget jadi perilakunya cenderung ngejar ngejar. Contoh paling gampang dipahami adalah seorang yang jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta biasanya akan NGETHEK kepada yang dicintai. Sering datang kepada orang yang dicintai walaupun tidak diundang bahkan mungkin tidak disukai. Dan tidak ada rasa bosan atau lelah meskipun jaraknya tidak dekat atau memerlukan energi ekstra. 

Kyai NGETEK ini diceritakan oleh DR Abdul Munir Mulkan saat berdiskusi di TVMU dengan penulis Jepang Prof Nakamura. Siapakah yang dimaksud Kyai NGETHEK tersebut? Tidak lain adalah Kyai Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah. Beliaulah yang keliling ke berbagai tempat menyapa jamaah memberikan pencerahan kepada umat denga cara mendatangi mereka dengan bersepeda. Bisa dibayangkan energi, waktu, kebesaran jiwa atau entah apa lagi yang harus dikalahkan untuk bisa melakukan hal ini. Mendatangi umat menyapa mendengarkan plus berempati terhadap permasalahan mereka bukan usaha ringan yang bisa dilakukan orang kebanyakan. Apalagi dilakukan oleh seorang ulama muda lulusan Timur Tengah yang saat itu pastilah termasuk kelompok elit yang sangat dihormati masyarakat. Patut diduga idealisme perubahan lah yang menjadi magnet motivasi jatuh cinta Darwis muda kepada umat sehingga beliau NGETHEK kepada mereka.

Kyai NGETHEK vs Kyai POP

Saat ini kalau kita mau ngundang ulama, ustadz atau kyai plus ada terkenalnya atau Kyai POP pastilah tidak mudah dan perlu dana cukup. Ustadz2 muda yang terkenal saat ini sudah mengelola diri dengan memiliki manager atau orang dekat atau Asisten Pribadi untuk mengelola jadwalnya yang padat agar tidak bentrok dan lebih mudah mengaturnya. Tentu hal ini baik baik saja dan sah. Namun dengan alasan efektivitas kesibukan sang ustadz biasanya sang manager suka menanyakan bagaimana transportasinya dan juga berapa budget yang disediakan oleh panitia. Sudah bisa diduga kemudian arah pembicaraan sang manager atau aspri ustadz. Tapi jangan suudzon dulu. Ada juga yang sekedar menanyakan tapi ada juga yang kemudian negosiasi alias tawar menawar. Alasannya sederhana saja mosok ngundang ustadz kok kalah sama ngundang artis. Masuk akal juga. Umat ini suka salah. Kok lebih hormat ngundang sama artis daripada ustadz dari sisi budget. Ya sudahlah. Itulah realitas jaman now.

Apakah masih ada di jaman now ini KYAI NGETHEK? Ainul yakin sumpah tidak tahu. Tapi haqqul yakin insyaAllah masih ada. Entah di kota atau di desa. Bahkan mungkin adanya di desa perbatasan yang jauh atau di pulau terpencil. Kan ada tuh ormas islam yang juga punya program dai perbatasan. Program semacam itu bisa juga dimaknai sebagai program KYAi NGETHEK meskipun harus diorganisir dan dibiayai bersama.

KYAI NGETHEK model Kyai Ahmad Dahlan kok rasanya sangat dibutuhkan ya saat ini. Tidak hanya di desa. Bahkan di kota lebih perlu karena manusianya lebih stres. Situasi kehidupan kota tanpa disadari yang asalnya bersahaja penuh harmoni menjadi ajang berkompetisi dalam segala aspek. Sosok panutan yang adem yang bisa memberikan bimbingan dan solusi yang bersifat relijius plus hadir tanpa harus diundang resmi pasti dibutuhkan bahkan dirindukan umat.

KYAI NGETHEK gak pakai diundang rutin hadir menyapa umat. Modal sendiri bahkan tak jarang harus memberi saat bertabligh. Siapa yang mau ya? Bukankah para asatidz juga punya keluarga yang pasti juga memiliki tanggungjawab dan kebutuhan keluarga yang tidak sedikit.

Wah susah dan ruwet kalau membahas soal beginian. Yang pasti Kyai Dahlan sudah memberikan contoh dan bisa mengamalkan. Pakai aja cara anak jaman now. Copas saja yang sudah terbukti sukses daripada mikir sendiri pusing dan belum tentu applicable.

KYAI NGETHEK enak dibaca direnungkan dihayati. Nice to have tapi tidak nice to do. Senang dan bangga punya KYAI NGETHEK seperti Kyai Dahlan. Lalu kita jadi paham dan maklum kalau organisasi yang didirikan membesar dan terus berkembang di usia lebih se abad. NGETHEK terasa lebih dari ikhlas. NGETHEK terasa seperti campuran perjuangan keikhlasan dan cinta. Kira kira kalau pakai bahasa manajeman core competency NGETHEK itu memiliki technical expertise, komunikasi, inisatif, integritas, passion dan resilliance atau kegigihan.

Alangkah indahnya bila saat saat seperti ini KYAI NGETHEK sekaliber Kyai Dahlan itu tiba tiba hadir menyapa kita, sabar mendengarkan keluhan dan pertanyaan kita, memberikan solusi dengan cerdas bijaksana santun atas isu isu kekinian umat. Plus memberikan cindera mata atau buku bacaan agama sebelum berpisah dengan kita. Enak banget jadi tak perlu repot repot nyari hp dan contact person untuk hubungi manager atau asprinya. Juga tak perlu bikin budget dan panitia penyelenggara pengajian pimpinan.

Bangun mas…bangun mas…ternyata saya mimpi

SELAMAT MILAD MUHAMMADIYAH ke 105

Saya rindu KYAI NGETHEK MUHAMMADIYAH jaman now

 

mega kuningan 20-11-2017